Warta Negeri
Informasi dalam genggaman

Kenali Sejumlah Efek Samping di Obat Corona

0 266

WNC – Penelitian untuk obat-obatan bagi penderita Covid-19 tengah berlangsung. Ada beberapa obat yang disebut ampuh menyembuhkan penderita, seperti hidroksikolrokuin (HCQ), klorokuin, avigan, dan lainnya.
Namun dalam penenelitian terungkap kelemahan-kelamahan pada obat-obatan tersebut, yakni terkait efek samping yang ditimbulkan, sehingga tak semua orang terinfeksi virus corona bisa mengonsumsinya.

Hasil penelitian terhadap HCQ misalnya, para ahli dari Beth Israel Deaconess Medical Center (BIDMC) di Amerika Serikat mendapati pasien yang menggunakan obat antimalaria ini berpotensi meningkatkan risiko aritmia jantung.
Aritmia jantung merupakan kondisi yang menyebabkan jantung berdetak tidak teratur, bisa terlalu lambat atau terlalu cepat.

Disebutkan, penggunaan HCQ yang dikombinasikan dengan azithromycin bisa membuat perubahan lebih besar dibandingkan pasien hanya diberikan HCQ saja.
“Hidroksiklorokuin dan azithromycin umumnya merupakan obat yang masih ditoleransi dengan baik, namun peningkatan penggunaan dalam konteks Covid-19 kemungkinan bisa meningkatkan frekuensi penggunaan obat yang merugikan (ADE),” kata Nicholas J Mercuro dari BIDMC, dikutip dari KT.

Menurut penelitian, sebagaimana diterbitkan dalam jurnal JAMA Cardiology, HCQ dan azithromycin dapat menyebabkan gangguan kelistrikan di jantung yang dikenal sebagai QTc. Kondisi ini bisa diketahui dari jarak yang lebih renggang antarpuncak elektrokardiogram.


Panjangnya QTc menunjukkan otot jantung membutuhkan waktu milidetik lebih lama dari biasanya untuk berdetak. Kondisi ini dapat menyebabkan aritmia jantung, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan serangan jantung, stroke, atau kematian.
Dalam studi, tim peneliti melibatkan 90 orang dewasa penderita Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di BIDMC antara 1 Maret dan 7 April. Mereka diberi HCQ setidaknya 1 hari.


Lebih dari setengah pasien memiliki sakit bawaan yakni tekanan darah tinggi dan lebih dari 30 persen menderita diabetes.
Sebanyak Tujuh pasien atau 19 persen yang menerima HCQ saja mengalami QTc berkepanjangan yakni 500 milidetik atau lebih dan tiga pasien mengalami perubahan dalam QTc 60 milidetik atau lebih.


Sementara dari 53 pasien yang juga mendapat azithromycin, 21 persen menunjukkan QTc 500 milidetik atau lebih serta 13 persen mengalami perubahan QTc 60 milidetik atau lebih.
“Dalam penelitian kami, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan menerima hidroksiklorokuin sering mengalami perpanjangan QTc dan efek samping obat,” kata peneliti, Christina F Yen.


Penggunaan HCQ pernah diterapkan pada pasien SARS pada 2003 dan data awal menunjukkan obat tersebut efektif melawan virus SARS-CoV-1.
Studi lain penggunaan HCQ melibatkan sejumlah kecil pasien Covid-19 baru-baru ini memang menunjukkan obat antimalaria itu efektif. Namun, penelitian selanjutnya gagal mengonfirmasi hasilnya.


Tim peneliti pun mendesak agar otoritas berhati-hati dan mempertimbangkan kembali sebelum memberikan HCQ kepada pasien Covid-19.=WNC/ADR/IN*

You might also like