Warta Negeri
Informasi dalam genggaman

Trem Hadir Karena Pemkot Gagal Kelola Angkot

0 196
WNC – Pemerintah Kota Bogor memiliki rancangan pembangunan dan penataan transportasi dalam Bogor Transportation Project (B-TOP), diantaranya program konversi dan rerouting angkot. Hingga saat ini, konversi angkot yang sudah disiapkan 7 koridor TPK Trans Pakuan tidak berjalan dan tiba tiba Pemkot Bogor menggulirkan program pengadaan Kereta Trem di Kota Bogor.
Pengamat Transportasi, Budi Arief mengatakan, publik transport sebelumnya di Kota Bogor ada B-TOP yang memiliki 7 kolidor Trans Pakuan atau TPK, sedangkan 7 TPK itu hingga saat ini belum berjalan. Seharusnya Pemkot Bogor memberikan kejelasan terkait program konversi angkot itu atau menjalankan B-TOP, tetapi sekarang mereka menggulirkan Trem. Memang setiap ada kebijakan revolusioner dengan menggunakan sistem baru, akan berdampak luas terhadap kondisi angkutan

“Dengan adanya Trem, angkutan konvensi otomatis akan terkena dampak, seperti angkot angkot yang nanti akam dilalui Trem, otomatis mereka tidak akan ada disana. Karena Trem berdiri sendiri dan tidak bisa di intervensi maka angkutan yang dilalui Trem akan hilang dengan sendirinya,” ucap Budi.
Tetapi Trem itu juga membutuhkan feeder dan angkot pengumpan untuk ke Trem. Jadi harus jelas dulu, akan seperti apa penataan angkutan di Kota Bogor nanti ketika ada Trem. Apakah mau menjalankan itu dengan konsekwensi terjadinya konflik sosial, karena kasus konversi angkot 3 banding 1 saja sampai saat ini tidak terealisasi. Didalam satu kota itu ada trans line jalur utama, jalur feeder dan pengumpan dan semuanya harus by desain yang memerlukan kajian baru dan mereview kajian sebelumnya.
“Siapapun yang mensponsori pasti tidak akan mungkin memberikan barangnya dijual, dan itu konsekwensi menerima bantuan gratis itu. Sehingga harus dilakukan kajian. Padahal di dalam negeri juga banyak potensi, disini ada INKA di Madiun yang bisa di adopsi, para pengamat atau akademisi serta kecanggihan alat alat di lokal juga bisa dipergunakan. Kajian itu harus berbasis lokal juga, karena disini juga memiliki potensi,” jelasnya.
Lanjut Budi, Pemkot Bogor harus memiliki kajian komprehensif terkait dengan integrasi mode angkutan, karena di Kota Bogor sudah ada B-TOP dan tentu harus di review konsepnya dan dibuat lagi kajian baru yang melibatkan semua pihak diantaranya, masyarakat, peneliti, akademisi, kementrian dan lainnya. Jangan sampai kesiapan itu tidak diutamakan, sehingga investasi di Trem tidak menguntungkan. “Konflik sosial sangat tinggi untuk pengadaan Trem di Kota Bogor,” ujarnya.
Kemampuan dan keinginan pengguna Trem harus di analisis, jangan sampai ketika di operasionalkan, warga tidak banyak yang menggunakan sehingga Trem bangkrut. Kerena Trem itu salah satu angkutan publik transport bersistem diantaranya tidak berhenti disembarang tempat, memiliki jalur kereta sendiri. Problem Trem juga ada diantaranya terkait dengan kedisiplinan masyarakat. Trem juga memiliki manuver mobilisasi dengan jari jari yang tidak terlalu jauh serta bisa menjangkau sub urban.
“Trem merupakan sistem teraksi yang relatif hemat energi dan bebas polusi karena menggunakan listrik. Trem memiliki sistem pentragrap atau kabel listrik diatas kereta, sedangkan Kota Bogor merupakan kota musim hujan yang curah hujannya juga tinggi. Sering ada hujan besar dan hujan angin, masalahnya adalah ketika Trem tertimpa pohon, itu negatifnya Trem jika ada di Kota Bogor,” paparnya.
Budi menambahkan, Trem juga berbasis rel yang memiliki depo depo tersendiri karena berhentinya tidak sembarangan. Pembangunan depo berada di kedua ujung sesuai rute nya dan karena mix traffic, kedisiplinan masyarakat sangat menentukan. Jadi ada konsekwensi dari Trem yang harus dipikirkan oleh Pemkot Bogor.=WNC/RIK
You might also like